Senin, 27 Juli 2009

Garuda Di Dadaku, Perjuangan mengejar mimpi


‘Garuda di Dadaku’ merupakan film bertema sepakbola yang ditujukan untuk anak-anak. Film garapan Ifa Isfansyah ini pun tak hanya menghibur, namun mampu memberikan inspirasi kepada anak bangsa untuk bisa mewujudkan mimpinya.

‘Garuda di Dadaku’ menampilkan perjalanan seorang anak yang bernama Bayu (Emir Mahira), seorang bocah yang mengejar impian menjadi pemain sepakbola nasional dan memiliki impian untuk membela tim nasional sepakbola Indonesia. Keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola mendapat tantangan keras dari kakeknya Usman (Ikranagara). Bagi Usman pemain sepakbola identik dengan kemiskinan dan tak punya masa depan seperti yang dialami anaknya.
Ayah Bayu memang seorang pemain sepakbola yang hidupnya kemudian mati sebagai seorang sopir taksi. Usman tak ingin pengalaman Ayah Bayu menular kepada cucu satu-satunya itu.
Untuk itulah Usman bersikeras mendidik cucunya menjadi anak yang multi talenta.
Kakek Usman menggunakan segala akal agar Bayu tidak memiliki waktu untuk bermain bola. Segala macam les mulai dari musik, lukis, hingga ke pelajaran sekolah didaftarkan untuk Bayu. Namun, bakat sepakbola Bayu yang memang menurun dari Ayahnya tak dapat dibendung siapapun. Bayu kerap kali mencuri-curi kesempatan untuk bermain sepakbola bersama teman-temannya. Bahkan Ibu Bayu, Wahyuni (Maudy Koesnaedi) tak dapat membendung keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola. Setiap hari dengan penuh semangat , ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Bayu tidak sendirian. Ia pun mendapatkan dukungan Heri (Aldo Tansiani), sahabatnya. Heri yang juga penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan 'pelatih' cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Bakat besar yang dimiliki Bayu ternyata dilirik oleh seorang pelatih sekolah sepakbola bernama Pak Johan (Ari Sihasale). Pak Johan memberi Bayu kesempatan untuk mengikuti seleksi tim sepakbola nasional U-13. Sayang, Bayu tidak pernah mendapat dukungan dari sang kakek.

Pintu membela tim nasional makin terbuka lebar. Bayu dan Heri ditemani Bang Dulloh (Ramzy) segera mencari tempat untuk Bayu latihan sepakbola. Karena tak ada lagi tempat dan karena ketahuan oleh sang kakek, mereka pun berlatih disebuah tempat kuburan. Kuburan yang diidentikkan sebagai tempat angker diubah menjadi tempat latihan yang menyenangkan. Di sini mereka bertemu dengan Zahra (Marsha Aruan) anak penjaga makam yang kini menjadi sahabat baru mereka. Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Kakek Bayu akhirnya mengetahui kebohongan Bayu yang masih suka bermain sepakbola. Usman mendadak terkena serangan jantung dan jatuh terkapar saat Bayu sedang berbahagia lolos mengikuti tes seleksi masuk tim nasional. Persahabatan Bayu dan dua temannya juga terancam putus.

Melihat tekad keras dari cucunya, hati Usman akhirnya luluh juga. Ia akhirnya memperbolehkan Bayu bermain sepakbola dan meraih cita-citanya sebagai pemain sepakbola ternama. Dengan sepatu sepakbola yang diberikan oleh Heri, Bayu mengikuti seleksi tim nasional U-13. Disaksikan oleh Kakek, Ibu dan semua orang-orang yang mendukungnya, Bayu akhirnya lolos dan menggunakan seragam tim nasional Indonesia dengan lambang garuda di dadanya.

‘Garuda di Dadaku’ bisa disebut sebagai film kedua setelah ‘Laskar Pelangi’ yang sanggup memberikan inspirasi belakangan ini. Semangat untuk bisa membela Indonesia di kancah sepakbola internasional yang ditampilkan Bayu mampu memberi contoh bagi anak untuk terus berusaha mewujudkan mimpinya. Film yang kesekian kalinya menyampaikan kritik kritik sosial kepada pemerintahan di Indonesia. Bahasa lugas ciri khas anak-anak tidak membuat film yang sebenarnya mengandung banyak makna ini menjadi berat.

Film ini juga banyak mengandung sindiran yang menggambarkan dunia sepakbola bahkan dunia olahraga di tanah air. Ayah Bayu mantan pemain sepakbola yang akhirnya menjadi seorang supir taksi, merupakan gambaran seorang pemain sepakbola yang harus tertatih-tatih menopang hari tuanya. Ini tak hanya terjadi dalam dunia sepakbola kita saja, melainkan seluruh cabang olah raga kita. Kita pernah dikejutkan dengan tewasnya atlet tinju kita Rachman Kili-Kili. Rachman ditemukan tewas gantung diri karena tak kunjung mendapat pekerjaan setelah gantung sarung tinju. Padahal Rachman pernah menjadi juara dunia dan membela nama Indonesia di kelas bulu Federasi Tinju Internasional, IBF tingkat dunia. Atlet kita terkadang diabaikan begitu masa kejayaan mereka berakhir.

Masa depan yang mengkhawatirkan itulah yang membuat profesi atlet kini tak lagi jadi primadona bagi generasi muda. Para orang tuapun enggan anaknya menjadi seorang atlet. Kita lihat saja sekolah atlet di Ragunan yang dulu pernah menghasilkan atlet-atlet handal kini dari tahun ke tahun makin sepi peminatnya.

Pesan moral di film ini tak hanya itu saja. Saat Bayu, Heri dan Bang Duloh mencari tempat berlatih mereka mendapati lahan kosong dengan pagar tinggi terkunci. Sekalipun terdapat lahan terbuka tempat itu ditempati untuk bermabuk-mabukan para preman. Hingga akhirnya mereka memutuskan tempat pemakamanlah yang paling baik untuk berlatih. Pemilihan tempat pemakaman sebagai tempat berlatih bagi Bayu merupakan gambaran betapa sulitnya mencari lahan bermain untuk anak-anak khususnya bermain sepakbola. Sangat sulit kita jumpai lahan terbuka yang difungsikan sebagai taman bermain bagi anak-anak. Kita lebih sering melihat anak-anak bermain di jalan-jalan atau di mall-mall.

Film ini juga sedang bicara kepada kita semua betapa pentingnya pembinaan usia muda terhadap bakat brilian anak-anak Indonesia. Masalah kurang seriusnya pembinaan atlet muda jugalah yang membuat prestasi olahraga khususnya sepakbola kita mandeg. Sekarang tim sepakbola kita harus pontang-panting menghadapi Malaysia, Singapura yang dulu kita anggap 'anak bawang'. Ini membuktikan regenerasi atlet negara lain berjalan dengan cepat dan dilakukan dengan serius. Anak-anak di film ini sepertinya sedang meminta perhatian Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Hampir tak ada kompetisi reguler bagi pemain-pemain muda dan anak seperti Bayu. Bakat anak-anak seperti Bayu tentunya butuh wadah dan pengalaman berkompetisi secara reguler agar terbiasa bermain. Anak-anak seperti Bayu memang perlu diperhatikan dengan serius. Dulu kita pernah punya anak berbakat berusia belia bernama Rigan Agachi, yang sempat membela klub PSV Eindhoven, Belanda. Rigan dipulangkan ke Indonesia. Kini namanya nyaris tak terdengar lagi. Sudah saatnyalah PSSI peduli dengan bakat pemain muda potensial. Dan tidak hanya PSSI melainkan seluruh cabang olah raga yang ada di Indonesia saat ini karena generasi mudalah yang akan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Meskipun film ini bercerita tentang anak-anak namun pesan terpenting dari anak-anak di film ini adalah, mereka coba mengajarkan kita tentang rasa nasionalisme yang tulus, tanpa embel-embel lain.*

1 komentar:

  1. wah seru yah film nya...
    sayangnya waktu itu dian ngga nonton lagi...
    ahhhh.. sial.

    BalasHapus