Selasa, 18 Oktober 2011

salam kenal...

haii..
salam kenal..nama gw Ririn.. nama asli nya dwi... biasa dipanggil toink! (lho?)
sebenernya gw pgn bgt dipanggil jessica, yuri, atau bella.. tapi yang ada nnti gw sakit-sakitan gara-gara keberatan nama daripada muka...hahahahaha..
toink itu panggilan dari sabam (guru taekwondo) gw..gw ga tau alesannya apa..atau mungkin karena muka gw agak mirip satu merk baju terkenal yang gambarnya bintang yang mukanya bulat, lubang hidungnya luar biasa borosnya, dan berwarna pink unyu-unyu...hahahahaha

mungkin ada yang nanya..ngapain nih orang?hahahahah...yang pasti gw juga ga tau gw mau ngapain..yang gw inget..gw ngetik pake mesin ketik trs merem..pas gw bangun ternyata udah masuk ke laptop!*garing

gw bakal kasih tau lo semua knp tiba-tiba gw bisa nulis kayak begini..hahahaha..
dan lo bakal tercengang sampe mulut lo dibawah kaki lo di atas..hahahaha...*lebay
tapi ini juga ga lepas dari bantuan si ayank 'Putra' yang tidak pernah habis kesabarannya untuk selalu mendengarkan gw cerita! thanks darl ;)

Kamis, 02 Desember 2010

SELF INJURY

Kalian pernah sadar ga sih..kalian suka nonjok tembok klo lagi ksel, gunting rambut atau kuku kalo lagi marah...???
itu namanya penyakit..dan g blh di diemin karena berbahaya bagi psikologis kalian...

Self Injury adalah penyakit psikologis yang gemar melukai atau menyiksa diri sendiri.
Kegemaran seperti ini punya banyak nama, misalnya self-abuse, self-harm atau self-stimulation...

Penyakit ini biasanya dikarenakan dia dalam kondisi tertekan, sedih, marah dan kesal..Tapi ada juga beberapa pemicunya contohnya :
1. Kurangnya perhatian orang tua
2. Tekanan dalam lingkungan luar
3. Melampiaskan Emosi
4. Trauma karena sering di bullying
5. Orang berkepribadian introvert
6. Patah Hati
7. Tidak pernah mengungkapkan perasaan dan menutup diri..

Nah..adakah yang merasa seperti diatas???
tapi kalian tenang aja..karena ini termasuk dalam perilaku mental illenes atau gangguan kepribadian ringan...

sooo..hati-hati ia teman...^^
sama yang namanya self injury..
karena bisa menyebabkan ketergantungan lho..

Senin, 18 Oktober 2010

beredar kembali..

yippieee..
blog ini mulai beredar lagi..
mw memulai belajar menjadi seorang penulis..
walau cuma ecek-ecek..hahahaha..

semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca...hehehe
terimakasih..

(salambay... =)))

Selasa, 01 September 2009

Tips berbicara di depan umum...

Bicara di depan banyak orang bagi kebanyakan kita merupakan salah satu pekerjaan yang sangat “menakutkan”. Karena untuk melakukan hal tersebut memerlukan keberanian yang tidak sembarangan orang miliki. Banyak kita lihat orang yang maju bertanya, mengemukakan pendapat, presentasi, dll yang sebenarnya mereka pintar, ternyata ketika bicara, kata-kata yang keluar dari mulutnya jadi “samar-samar” dan susah di mengerti. Terlihat jelas kegugupannya ketika berbicara di depan umum. Terutama ini biasanya sangat dirasakan oleh para mahasiswa (hayo ngaku..? he.he.he). Untuk itu tips sederhana ini mungkin saja bisa membantu, selamat menyimak…

Mulai Dari yang Kecil

Mulaihlah untuk berlatih berbicara dari lingkup yang kecil. Lingkup kecil ini yang bisa kita temui, misalnya pada rapat-rapat kepanitiaan acara kita bisa jadikan ajang berbicara mengemukakan pendapat, rapat di kampung RT/RW, ketika menjadi peserta seminar aktif memberikan pertanyaan/tanggapan, ketika di kelas aktif bertanya dan berargumen. Setelah itu lambat laun baru lingkupnya diperbesar dengan mulai mengajar di kelas bahkan mengisi seminar.

Perlunya Jam Terbang

Semuanya berawal dari kebiasaan. Mungkin ini kata yang tepat, yaitu untuk membiasakan diri kita selalu melalui proses untuk mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Coba lihat orang yang mampu mengetik sepuluh jari dengan cepat, bagi kita yang belum bisa mengetik secepat itu pasti merasa takjub dan terkagum-kagum. Tapi bagi yang bisa merasa kemampuannya tersebut biasa saja, dikarenakan memang sudah terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun. Nah, hal ini juga yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas bicara kita di depan umum. Yakinlah, bila jam terbang Anda sudah tinggi, kualitas Anda menjadi public speaker akan menjadi baik dan yang namanya rasa malu/takut untuk bicara tidak akan menguasai diri Anda lagi.

Percayalah, Semua Pembicara Pasti Grogi

Jangan dikira setiap pembicara yang tampak hebat ketika berbicara dengan percaya diri yang tinggi dan membuat audiens larut dalam orasinya tidak mengalami grogi loh. Percayalah setiap pembicara, MC, presenter dan publik spekaer lainnya ketika pertama kali tampil dan berbicara di depan umum pasti mengalami gugup dan grogi dulu. Tetapi setelah berada di atas panggung dan melontarkan beberapa kata pembuka, dengan cepat kegugupan tersebut sirna dan berganti dengan rasa enjoy dan mengalir.

Tips Pernafasan untuk Menjinakkan Grogi

Ketika kita gugup maka suara yang kita keluarkan akan terasa bergetar, kerongkongan kita terasa tercekat bahkan untuk beberapa orang sampai ada yang mules-mules perutnya :)Beruntunglah saya sempat bergaul dengan teman-teman orator unggul yang mau membagi tipsnya. Dari mereka saya tahu cara mengatasinya adalah; setiap gugup muncul tariklah nafas dalam-dalam kemudian tahan, lalu mulailah bicara dengan perlahan. Efeknya sungguh menggembirakan, walaupun dada kita masih berdegup kencang, tapi suara yang keluar sangatlah datar dan intonasinya pun terjaga.

Tatapan Mata

Tahukah Anda apa sebenarnya yang sering menyebabkan kita selalu gugup dan dengkul merasa lemas ketika berbicara di depan publik? Ya, salah satunya adalah ketika kita dilihat oleh puluhan bahkan ratusan pasang mata..! Rasanya nyawa mau melayang bukan? Hal ini biasanya dikarenakan mata kita selalu menatap secara langsung mata para hadirin. Sehingga selalu muncul perasaan seolah-olah mereka bakal mentertawakan kita dan apalagi bila kita melihat dua orang hadirin yang sedang berbisik sambil melirik ke arah kita, hal itu menambah daya gugup yang sudah mengguncang dada kita bukan?

Memang untuk beberapa pembicara tidak masalah tapi bagi yang mudah gugup saran saya jangan terlalu sering melihat/kontak langsung dengan mata hadirin. Tapi jangan lupa untuk tetap sesekali melakukan kontak mata langsung, karena sebagai wujud perhatian serius kita ke mereka.

Lalu kemana seharusnya mata kita tujukan? Cara yang biasa saya lakukan adalah dengan melihat ke bagian kepala para hadirin. Karena dengan begitu mereka tidak sadar bahwa sebenarnya kita tidak melihat langsung ke mereka, tetapi bagi mereka merasa kita telah memperhatikan. Ada juga caranya dengan melihat di bagian tengah dari kerumunan peserta/hadirin.


selamat mencoba..^^

Minggu, 30 Agustus 2009

Tips Menghindari pikun di usia muda

“aduh…tadi bukunya ditaruh dimana ya?kok pikun gini???”..mungkin hal ini biasa kita alami. Lupa dan pikun tidak jauh berbeda. Pikun juga bukan tergantung lagi pada usia, baik tua maupun muda pasti pernah mengalami hal ini. Jika terus berulang, gangguan ini tentu akan menghambat pekerjaan. Berikut beberapa tips untuk mengurangi gangguan pikun di usia muda dan mengoptimalkan fungsi otak.
  • Berolah raga
Olah Raga tidak hanya bagus untuk tubuh. Akan tetapi juga bagus untuk membantu meningkatkan fungsi otak. So, mulailah berolah raga secara teratur, dengan jumlah kualitas olah raga yang cukup.

  • Istirahat
Sebaiknya memiliki jam tidur yang cukup dan teratur setiap hari. Sehingga menghasilkan istirahat yang berkualitas untuk otak kita.
  • Kurangi makanan berlemak
Lemak?Hmmm…mungkin sulit untuk berhenti memakan makanan yang berlemak…tidak harus berhenti sih…cukup menguranginya saja itu sudah cuku untuk mengoptimalkan otak kita. Makanan yang harus dibatasi yaitu berupa junk food dan daging berkolesterol tinggi
  • Penuhi kebutuhan nutrisi
Protein yang banyak terdapat pada ikan, biji-bijian seperti kedelai maupun produk olahannya amat baik bagi pembentukan sel-sel otak. Tidak lupa untuk mengonsumsi jenis sayuran dan buah-buahan. Karena itu penting dan bagus banget tidak hanya untuk otak, tapi juga untuk tubuh sob….
  • Jauhi stress
Stress!Nah…ini yang paling berpengaruh. Beban pikiran yang terlalu berat akan menurunkan konsntrasi seseorang. Belajarlah mengelola dan menyikapi masalah serta hadapi segala sesuatu.

selamat mencoba..^^

Senin, 27 Juli 2009

at Cisarua with my friend^


gini nie..enaknya liburan bersama kawand-kawand...berjalan 12 km PP..hehehe
kpn bisa ksna lagi iaaa??????

Garuda Di Dadaku, Perjuangan mengejar mimpi


‘Garuda di Dadaku’ merupakan film bertema sepakbola yang ditujukan untuk anak-anak. Film garapan Ifa Isfansyah ini pun tak hanya menghibur, namun mampu memberikan inspirasi kepada anak bangsa untuk bisa mewujudkan mimpinya.

‘Garuda di Dadaku’ menampilkan perjalanan seorang anak yang bernama Bayu (Emir Mahira), seorang bocah yang mengejar impian menjadi pemain sepakbola nasional dan memiliki impian untuk membela tim nasional sepakbola Indonesia. Keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola mendapat tantangan keras dari kakeknya Usman (Ikranagara). Bagi Usman pemain sepakbola identik dengan kemiskinan dan tak punya masa depan seperti yang dialami anaknya.
Ayah Bayu memang seorang pemain sepakbola yang hidupnya kemudian mati sebagai seorang sopir taksi. Usman tak ingin pengalaman Ayah Bayu menular kepada cucu satu-satunya itu.
Untuk itulah Usman bersikeras mendidik cucunya menjadi anak yang multi talenta.
Kakek Usman menggunakan segala akal agar Bayu tidak memiliki waktu untuk bermain bola. Segala macam les mulai dari musik, lukis, hingga ke pelajaran sekolah didaftarkan untuk Bayu. Namun, bakat sepakbola Bayu yang memang menurun dari Ayahnya tak dapat dibendung siapapun. Bayu kerap kali mencuri-curi kesempatan untuk bermain sepakbola bersama teman-temannya. Bahkan Ibu Bayu, Wahyuni (Maudy Koesnaedi) tak dapat membendung keinginan Bayu menjadi pemain sepakbola. Setiap hari dengan penuh semangat , ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.

Untuk mewujudkan mimpinya itu, Bayu tidak sendirian. Ia pun mendapatkan dukungan Heri (Aldo Tansiani), sahabatnya. Heri yang juga penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan 'pelatih' cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Bakat besar yang dimiliki Bayu ternyata dilirik oleh seorang pelatih sekolah sepakbola bernama Pak Johan (Ari Sihasale). Pak Johan memberi Bayu kesempatan untuk mengikuti seleksi tim sepakbola nasional U-13. Sayang, Bayu tidak pernah mendapat dukungan dari sang kakek.

Pintu membela tim nasional makin terbuka lebar. Bayu dan Heri ditemani Bang Dulloh (Ramzy) segera mencari tempat untuk Bayu latihan sepakbola. Karena tak ada lagi tempat dan karena ketahuan oleh sang kakek, mereka pun berlatih disebuah tempat kuburan. Kuburan yang diidentikkan sebagai tempat angker diubah menjadi tempat latihan yang menyenangkan. Di sini mereka bertemu dengan Zahra (Marsha Aruan) anak penjaga makam yang kini menjadi sahabat baru mereka. Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Kakek Bayu akhirnya mengetahui kebohongan Bayu yang masih suka bermain sepakbola. Usman mendadak terkena serangan jantung dan jatuh terkapar saat Bayu sedang berbahagia lolos mengikuti tes seleksi masuk tim nasional. Persahabatan Bayu dan dua temannya juga terancam putus.

Melihat tekad keras dari cucunya, hati Usman akhirnya luluh juga. Ia akhirnya memperbolehkan Bayu bermain sepakbola dan meraih cita-citanya sebagai pemain sepakbola ternama. Dengan sepatu sepakbola yang diberikan oleh Heri, Bayu mengikuti seleksi tim nasional U-13. Disaksikan oleh Kakek, Ibu dan semua orang-orang yang mendukungnya, Bayu akhirnya lolos dan menggunakan seragam tim nasional Indonesia dengan lambang garuda di dadanya.

‘Garuda di Dadaku’ bisa disebut sebagai film kedua setelah ‘Laskar Pelangi’ yang sanggup memberikan inspirasi belakangan ini. Semangat untuk bisa membela Indonesia di kancah sepakbola internasional yang ditampilkan Bayu mampu memberi contoh bagi anak untuk terus berusaha mewujudkan mimpinya. Film yang kesekian kalinya menyampaikan kritik kritik sosial kepada pemerintahan di Indonesia. Bahasa lugas ciri khas anak-anak tidak membuat film yang sebenarnya mengandung banyak makna ini menjadi berat.

Film ini juga banyak mengandung sindiran yang menggambarkan dunia sepakbola bahkan dunia olahraga di tanah air. Ayah Bayu mantan pemain sepakbola yang akhirnya menjadi seorang supir taksi, merupakan gambaran seorang pemain sepakbola yang harus tertatih-tatih menopang hari tuanya. Ini tak hanya terjadi dalam dunia sepakbola kita saja, melainkan seluruh cabang olah raga kita. Kita pernah dikejutkan dengan tewasnya atlet tinju kita Rachman Kili-Kili. Rachman ditemukan tewas gantung diri karena tak kunjung mendapat pekerjaan setelah gantung sarung tinju. Padahal Rachman pernah menjadi juara dunia dan membela nama Indonesia di kelas bulu Federasi Tinju Internasional, IBF tingkat dunia. Atlet kita terkadang diabaikan begitu masa kejayaan mereka berakhir.

Masa depan yang mengkhawatirkan itulah yang membuat profesi atlet kini tak lagi jadi primadona bagi generasi muda. Para orang tuapun enggan anaknya menjadi seorang atlet. Kita lihat saja sekolah atlet di Ragunan yang dulu pernah menghasilkan atlet-atlet handal kini dari tahun ke tahun makin sepi peminatnya.

Pesan moral di film ini tak hanya itu saja. Saat Bayu, Heri dan Bang Duloh mencari tempat berlatih mereka mendapati lahan kosong dengan pagar tinggi terkunci. Sekalipun terdapat lahan terbuka tempat itu ditempati untuk bermabuk-mabukan para preman. Hingga akhirnya mereka memutuskan tempat pemakamanlah yang paling baik untuk berlatih. Pemilihan tempat pemakaman sebagai tempat berlatih bagi Bayu merupakan gambaran betapa sulitnya mencari lahan bermain untuk anak-anak khususnya bermain sepakbola. Sangat sulit kita jumpai lahan terbuka yang difungsikan sebagai taman bermain bagi anak-anak. Kita lebih sering melihat anak-anak bermain di jalan-jalan atau di mall-mall.

Film ini juga sedang bicara kepada kita semua betapa pentingnya pembinaan usia muda terhadap bakat brilian anak-anak Indonesia. Masalah kurang seriusnya pembinaan atlet muda jugalah yang membuat prestasi olahraga khususnya sepakbola kita mandeg. Sekarang tim sepakbola kita harus pontang-panting menghadapi Malaysia, Singapura yang dulu kita anggap 'anak bawang'. Ini membuktikan regenerasi atlet negara lain berjalan dengan cepat dan dilakukan dengan serius. Anak-anak di film ini sepertinya sedang meminta perhatian Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Hampir tak ada kompetisi reguler bagi pemain-pemain muda dan anak seperti Bayu. Bakat anak-anak seperti Bayu tentunya butuh wadah dan pengalaman berkompetisi secara reguler agar terbiasa bermain. Anak-anak seperti Bayu memang perlu diperhatikan dengan serius. Dulu kita pernah punya anak berbakat berusia belia bernama Rigan Agachi, yang sempat membela klub PSV Eindhoven, Belanda. Rigan dipulangkan ke Indonesia. Kini namanya nyaris tak terdengar lagi. Sudah saatnyalah PSSI peduli dengan bakat pemain muda potensial. Dan tidak hanya PSSI melainkan seluruh cabang olah raga yang ada di Indonesia saat ini karena generasi mudalah yang akan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Meskipun film ini bercerita tentang anak-anak namun pesan terpenting dari anak-anak di film ini adalah, mereka coba mengajarkan kita tentang rasa nasionalisme yang tulus, tanpa embel-embel lain.*